Showing posts with label Renungan Kiriman RHO-ers. Show all posts
Showing posts with label Renungan Kiriman RHO-ers. Show all posts

Tuesday, November 30, 2010

From RHO-ers: “Konek” sama TUHAN

From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Keluaran 34:29
--------------------------------

“Ketika Musa turun dari gunung Sinai – kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu – tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.”

Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang wajahnya seperti “bersinar”? Saya pernah, orang itu adalah seorang hamba Tuhan (Pendeta) sederhana di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Kudus nama kota itu. Pertama kali saya bertemu dengannya adalah di tahun 2002 ketika ia sedang melayani di gereja saya, di Jakarta. Penampilan-nya sederhana, rambutnya berwarna putih ke-abu-abu-an, menyiratkan usia-nya yang sudah tidak muda lagi, ditambah dengan senyum simpul-nya yang men-transfer kehangatan pada setiap orang yang melihatnya, genggaman tangan-nya mantap ketika memberikan salam kepada jemaat, dan yang paling mengesankan saya ialah: di dalam pemberitaan firman, ia sungguh-sungguh memancarkan “cahaya” kemuliaan Tuhan. Bahkan ketika ia sudah berhenti memberitakan firman, “cahaya” itu masih bersinar di wajahnya!

Saya percaya ia tidak menyadari sama sekali bahwa wajahnya memancarkan “sinar” kemuliaan Tuhan. Sama seperti Musa yang tidak mengetahui bahwa “kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN”. Di sinilah sebenarnya “kunci” jawaban mengapa ia dan Musa bisa bercahaya wajahnya; “oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.”

Baik Pendeta ini maupun Musa, mereka adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Tinggi, mereka tidak merindukan apapun di dunia ini, selain merindukan berada di dekat Tuhan. Berada di dekat Tuhan dan Tuhan berada di dekat mereka adalah hal yang utama dalam hidup ini bagi mereka. Keberadaan mereka di dekat Tuhan dan keberadaan Tuhan di dekat mereka, seolah-olah membuat mereka “kenyang” dengan hal-hal yang jasmani dan fana. Alkitab mencatat, “Musa ada di sana [di gunung Sinai] bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman [the Ten Commandments].” (Keluaran 34:28)

Luar biasa! 40 hari dan 40 malam tanpa roti untuk dimakan dan tanpa air untuk diminum, hanya ia dan Tuhan – alone with God! – di gunung itu menikmati kebersamaan, dan Musa kenyang! Sungguh indah ketika kita bisa memiliki bobot relasi yang sedemikian dalam dan intimnya dengan Tuhan. Daud berkata, “Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu. Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. Sebab pada-Mu ada sumber hayat [fountain of life], di dalam terang-Mu kami melihat terang.” (Mazmur 36:8-10)

Mari kenyangkan jiwamu, datanglah mendekat pada-Nya, jalinlah relasi dengan-Nya, dan nikmatilah limpah anugerah-Nya bagimu dan bagiku! Bagaimana caranya? Sebuah lirik lagu Sekolah Minggu menjawabnya: “Baca kitab Suci, doa tiap hari, kalau mau tumbuh”. Amin.

Westminster Larger Catechism (Katekismus Besar Westminster)
Q. 1. What is the chief and highest end of man?
(P.1. Apakah pencapaian terpuncak dan terutama dari seorang manusia?)

A. Man’s chief and highest end is to glorify God, and fully to
enjoy him forever.
(J. Pencapaian terutama dan terpuncak manusia adalah untuk memuliakan Tuhan, dan sepenuh-penuhnya menikmati Tuhan selama-lamanya.)

Monday, November 29, 2010

From RHO-ers: Tuhan Yang Menanam

From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan:
Keluaran 35:34-35a
------------------------------------

“Dan TUHAN menanam dalam hatinya [Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda – ay. 30], dan dalam hati Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan, kepandaian untuk mengajar. Ia (TUHAN) telah memenuhi mereka dengan keahlian. . .”

Bacaan Alkitab hari ini membuat saya mau gak mau langsung merendahkan diri di hadapan Tuhan. Mengapa? Karena saya diingatkan bahwa segala kepandaian dan keahlian yang saya miliki semua asalnya adalah dari Tuhan. Jadi, tidak ada “ruang”, seharusnya, bagi saya untuk memegahkan diri – walaupun sesaat – karena segala kepandaian dan keahlian yang saya miliki saat ini. Tetapi di saat yang sama, seharusnya juga tidak ada “ruang” bagi saya untuk menjadi minder – walaupun sesaat – karena sebenarnya di dalam diri ini ada sesuatu yang baik yang Tuhan tanam.

Bacaan Alkitab hari ini juga mengingatkan saya akan pesan Kakak KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) saya ketika dulu ia memimpin kami. Ia pernah mengatakan, “Ketika kamu dipuji oleh orang lain karena kecakapan-mu di dalam melayani, ingat! Segera kembalikan pujian itu kepada Tuhan. Sebab hanya Dia yang layak menerima pujian tersebut.” – Pujian, hormat, dan kekaguman semuanya adalah untuk Tuhan dan bukan untuk kita. Jangan biarkan diri kita “mencuri” kemuliaan Tuhan. Demikian pesan-nya yang masih terngiang di benak saya hingga saat ini.

Bezaleel dan Aholiab pada dasarnya adalah manusia biasa, sama seperti saya dan Anda. Tetapi mereka menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa dan dicatat namanya di dalam Alkitab adalah semata-mata karena “Tuhan yang menanam”-kan kepandaian dan keahlian yang luar biasa itu di dalam hati mereka. Jadi, pusat kekaguman kita yang utama ketika membaca perikop ini seharusnya bukan pada pribadi Bezaleel dan Aholiab tetapi pada pribadi Allah yang sanggup “meniupkan” Roh-Nya (ay. 31) ke dalam pribadi mereka sehingga mereka dapat menjadi orang-orang yang sangat ahli, baik dalam hal mengajar maupun dalam hal pembangunan Kemah Suci pada waktu itu.

Fenomena yang terjadi saat ini justru adalah kebalikan-nya. Jaman ini – menurut pengamatan saya – adalah jaman “Narcissistic”; yaitu jaman dimana semua orang ingin “unjuk gigi” bahwa dirinya itu adalah “something”. Itu sebab lahir acara-acara seperti “Indonesian Idol”, “Kid’s Idol”, dan berbagai acara-acara lain-nya yang intinya menawarkan kepada manusia – kecil-besar, tua-muda, kaya-miskin, cakep-jelek, kurus-gemuk, pintar-bodoh – untuk berani “unjuk gigi” dengan menampilkan potensi diri yang ada di dalam diri mereka. Dan tujuan dari acara seperti ini – selain komersil – adalah untuk mencari popularitas diri sendiri. Kemuliaan Tuhan menjadi nomor dua atau mungkin nomor tiga. Kemuliaan diri menjadi nomor satu.

Ayat bacaan hari ini sekali lagi mengingatkan kita semua bahwa apapun kepandaian dan keahlian yang kita miliki, semua itu adalah “Tuhan yang menanam”. Jadi sudah seharusnya dan sepantasnyalah segala usaha kita menggali potensi diri ini adalah bukan untuk kepuasaan diri kita, melainkan untuk kepuasaan dan keharuman nama Tuhan. Kita hanyalah “seonggok daging” biasa jika Tuhan tidak menanamkan kepandaian dan keahlian-Nya di dalam hati kita. Marilah “dengan takut dan gentar kita mengerjakan keselamatan yang Tuhan sudah berikan kepada kita” (Filipi 2:12), karena “Allahlah yang (sebenarnya) mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:13)

Doa: Tuhan ingatkanlah aku untuk menjadi rendah hati jika aku menyombongkan diri dengan segala kepandaian dan keahlian yang asalnya dari-Mu, tetapi juga ingatkanlah aku untuk menjadi percaya diri jika aku terlalu memandang rendah diriku sendiri sehingga aku lupa melihat segala hal yang baik yang Engkau tanam di dalam hatiku. Dalam nama Yesus. Amin.

Sunday, November 28, 2010

From RHO-ers: Penundaan

From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Amsal 21:25
---------------------------

“Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja.”

Ada sebuah legenda tua dari seorang puteri yang kalah karena ia MENUNDA membuat sebuah keputusan. Menurut ceritanya, sang puteri diperbolehkan untuk berjalan-jalan di sebuah padang yang dipenuhi dengan perhiasan yang indah; dan ia diperkenankan untuk mengambil satu, tetapi hanya satu yang boleh ia simpan.

Ia diperbolehkan untuk berjalan melalui padang itu hanya untuk SEKALI saja. Dan ia hanya dapat berjalan maju dan tidak boleh mundur lagi (demikian juga dengan kehidupan).

Saat ia memulai perjalanan-nya, ia melihat berlian, rubi, permata dan safir yang bersinar di bawah sinar matahari. Ia juga melihat mutiara sebesar buah ceri. Di mana pun ia melihat, ia melihat perhiasan bersinar dengan indahnya. Namun, ia berpikir bahwa ia tidak seharusnya memilih terlalu cepat karena tentunya mereka [perhiasan tersebut] akan makin bersinar dan besar.

Tetapi, sambil ia meneruskan perjalanan, keindahan perhiasan itu semakin memudar. Mereka [perhiasan itu] juga tampak semakin mengecil. Jadi, ia menunda pilihannya. Ia mengharapkan sesuatu yang lebih besar. Setelah beberapa saat, ia sudah mendekati ujung daripada padang itu. Namun, sekarang yang tampak hanyalah kaca-kaca murahan dan tidak berharga untuk dimiliki. Jadi, ia tidak memilih satu pun. Sebelum ia mengetahuinya, sang puteri keluar dari Padang Perhiasan, dan ia belum memilih satu pun [!] Dan, saat itu semuanya sudah terlambat.

Kehidupan bisa menjadi seperti kisah legenda di atas bagi para penunda. Besok, dan besok. Namun, besok mungkin tidak akan pernah datang. Seekor burung di tangan sebenarnya lebih berharga daripada dua ekor burung di semak-semak.

Diambil dari: "Saya akan melakukannya... BESOK!", Karya: Jerry & Kirsti Newcombe

Saturday, November 27, 2010

From RHO-ers: Tergerak, Lalu Bergerak

From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan:
Keluaran 35:21a
-------------------------------

“Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN. . .”

Prinsip utama dari persembahan yang sejati adalah lahir dari kerelaan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan si pemberi persembahan tidak ingin menonjolkan nama-nya melalui persembahan tersebut (baca: Matius 6:3-4 – “[J]ika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat oleh tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”). Persembahan yang sejati bukan lahir dari keterpaksaan, bukan juga lahir dari motif terselubung, dan yang lebih penting bukan lahir dari keangkuhan.

Dulu ketika saya masih kuliah, saya suka menyisihkan uang jajan mingguan untuk saya berikan kepada orang-orang yang tidak mampu. Setiap akhir bulan, uang jajan mingguan yang saya sudah sisihkan saya masukkan ke dalam amplop, lalu di dalam amplop itu saya juga masukkan traktat Kristen + waktu itu saya juga masukkan foto Tuhan Yesus  - Konsep yang ada di benak saya pada waktu itu sederhana; saya hanya ingin bisa jadi perpanjangan tangan Tuhan buat orang lain yang membutuhkan, tetapi saya juga ingin orang yang menerima bantuan dari saya itu mengetahui bahwa bantuan itu datang-nya dari Tuhan Yesus bukan dari saya, tetapi kebetulan “orang suruhan” (messenger) yang Tuhan Yesus pilih ialah saya.

Bagaimana saya melakukannya? Saya melakukannya dengan cara memilih acak (random choosing) “target” yang akan saya berikan amplop setiap bulannya. Jadi, setiap pulang kuliah saya dalam hati berdoa kepada Tuhan sambil mengendarai motor, saya bilang sama Tuhan: “Tuhan, tunjukkanlah siapa orang yang Engkau ingin agar dia menerima amplop ini, bimbing aku ya Tuhan.” Demikian doa saya dalam hati.

Nah, biasanya nanti Tuhan condongkan hati saya kepada orang tertentu setelah saya berdoa. Jika dorongan itu makin kuat, maka saya segera menepi lalu men-stop motor saya, dan kemudian saya memanggil orang tersebut – orang itu bisa seorang tukang parkir, seorang tukang sapu jalanan, anak kecil yang sedang mengamen, orang lansia yang sedang terhuyung-huyung berjalan kaki di sore hari, atau ibu-ibu tua yang sedang menenteng bawaannya, dll. – setelah saya memanggil orang tersebut, saya lalu mengatakan demikian kepadanya: “Pak / Bu, ini amplop buat Bapak / Ibu. Di dalamnya ada uang ala kadarnya, silahkan Bapak / Ibu pakai untuk keperluan Bapak / Ibu. Ini dari Tuhan Yesus buat Bapak / Ibu. Terima ya, Tuhan Yesus mengasihi Bapak / Ibu.” Lalu saya tutup dengan senyum simpul dan kemudian saya langsung tancap gas dan perlahan-lahan saya melihat orang itu lewat kaca spion. Ada yang menunjukkan ekspresi bingung, ada yang ekspresinya senang, ada yang ekspresinya kaget, ada yang gabungan dari bingung, senang dan kaget. Tetapi tahukah Anda siapakah orang yang paling senang? Orang yang paling bahagia adalah saya! Bahagia rasanya bisa jadi perpanjangan tangan kasih Tuhan buat orang lain yang saya tidak kenal sama sekali. Sungguh benar apa yang Yesus katakan, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Rasul 20:35)

Saya yakin, demikian juga orang-orang yang hatinya tergerak dan yang jiwanya terdorong untuk membawa persembahan khusus bagi Tuhan, yang dicatat di kitab Keluaran, pasti mereka sangat berbahagia! Mereka dengan rela dan sukacita datang membawa “anting-anting hidung”, “anting-anting telinga”, “cincin meterai”, dan “kerongsang” (kalung), serta “segala macam barang emas” ke hadapan Tuhan (Keluaran 35:22). Mereka tergerak – di ayat 21 – lalu mereka bergerak – di ayat 22.

Tetapi melihat kondisi umat Tuhan pada jaman ini sangat disayangkan. Ketika manusia semakin matrelialistis, maka manusia pun semakin dingin untuk memberi bagi orang lain atau bagi pekerjaan Tuhan. Pusat utama mereka bukan lagi apa yang menyenangkan hati Tuhan, melainkan apa yang menyenangkan dan memanjakan hati mereka. Mereka lupa bahwa segala kekayaan mereka datang-nya adalah dari Tuhan. Salomo – seorang raja Israel yang terkaya di sepanjang sejarah para raja-raja Israel – pernah berkata, “Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Amsal 10:22)

Kiranya Tuhan membuat hati kita “tergerak” (bentuk pasif) dan kemudian tangan ini “bergerak” (bentuk aktif) meresponi panggilan Tuhan untuk menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya bagi sesama dan bagi pekerjaan-Nya di dunia ini. Amin.

Friday, November 26, 2010

From RHO-ers: Tutup Pendamaian

From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Keluaran 37:9
-------------------------------

“Kerub-kerub itu mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah menghadap muka kerub-kerub itu.”

Tutup Pendamaian adalah elemen yang sangat penting dari Tabut Perjanjian bangsa Israel. Sebab dari Tutup Pendamaian inilah Allah pernah berjanji kepada Musa bahwa Ia akan berbicara dari atas tutup peti – yakni Tutup Pendamaian – di antara kedua kerub. “Dan disanalah Aku (YHWH) akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku (YHWH) akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.” (Keluaran 25:22)

Dengan sangat jelas dan spesifik Allah mengatakan kepada Musa D-I-M-A-N-A Diri-Nya dapat ditemui dan didengar suara-Nya. Itulah sebab proses pembuatan Tabut Perjanjian – yang di atasnya ditutup dengan Tutup Pendamaian – dicatat oleh Alkitab dengan begitu detail dan spesifik, seperti yang Allah perintahkan kepada Musa bagaimana Tabut itu harus dibuat. Bahkan, dengan sangat jelas dan spesifik pula Allah telah menunjuk siapa yang harus membuat Tabut Perjanjian itu, yakni Bezaleel (lihat: Keluaran 36:1)

Dibalik Tutup Pendamaian itu terdapat 3 (tiga) buah benda yang sangat penting. Ketiga benda itu adalah pertama, Dua Loh Batu yang bertuliskan Sepuluh Hukum Allah (lihat: Keluaran 34), kedua, Buli-buli yang berisi Manna, dan ketiga, Tongkat Harun yang bertunas serta berbunga dan berbuah (lihat: Ibrani 9:4; Keluaran 16:32-33; Bilangan 17:8). Ketiga benda ini merupakan simbol dari Kristus yang digenapi-Nya di dalam Perjanjian Baru.

Pertama, “Dua Loh Batu” – Dua Loh Batu yang bertuliskan Sepuluh Hukum Allah ini merupakan simbol yang mengingatkan kita kepada Tuhan Yesus Kristus yang adalah Firman Hidup itu. Firman Hidup yang menyatakan Allah kepada dunia ini (lihat: Yohanes 1:18).

Kedua, “Manna” – Manna (Roti) yaitu makanan yang khusus diberikan oleh Tuhan untuk bangsa Israel ketika mereka masih berada di perantauan. Manna merupakan simbol akan Diri Yesus Kristus yang adalah “Roti Hidup” (lihat: Yohanes 6:35, 48, 51).

Dan ketiga, “Tongkat Harun” – Tongkat Harun yang bertunas, berbunga serta berbuah adalah simbol yang menunjuk kepada Yesus Kristus yang dapat memberikan “tunas” hidup yang kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya (lihat: Yohanes 11:25-26).

Apa yang Yesus kerjakan di dalam kehidupan-Nya selama 33 ½ tahun adalah menggenapi simbol atau perlambangan di atas. Ia – Kristus – menjadikan Diri-Nya “Tutup Pendamaian” bagi kita semua. Sehingga lewat Yesus Kristus – Sang Tutup Pendamaian itu – kita yang percaya kepada Kristus dapat bertemu dan berbicara kepada Allah secara langsung dan tanpa perantara Imam Besar lagi.

Membayangkan ribet-nya orang-orang yang hidup di jaman Perjanjian Lama (PL) jika ingin bertemu dan berbicara dengan Allah, membuat hati saya bergetar penuh syukur karena lewat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, saya – dan Anda – tidak perlu lagi melalui ke-ribet-an “tata cara” PL untuk dapat bertemu dan berbicara kepada Allah.

Tetapi sungguh miris dan nyeri rasanya ketika merenungi kehidupan orang-orang yang hidup pasca Perjanjian Baru yang justru tidak menghargai waktu untuk boleh bertemu dan berbicara kepada Allah melalui Yesus Kristus di dalam doa. Jika orang-orang PL hanya bisa bertemu dan berbicara kepada Allah setahun sekali, dan itupun hanya seorang Imam Besar saja yang boleh masuk, maka kita yang sekarang hidup justru tidak menghargai akses langsung tanpa hambatan dan birokrasi untuk bertemu dan berbicara dengan Allah lewat Yesus Kristus di dalam doa. Kita malas berdoa, kita enggan berkomunikasi dengan Allah, kita ogah-ogahan ketika menaikkan doa syafaat, dan bahkan kita terkadang lupa untuk sekedar doa syukur untuk makanan “hari ini” yang kita terima.

Kiranya renungan sederhana ini bisa membuat hati kita tergugah dan membangkitkan kerinduan yang hangat untuk mau bertemu dan berbicara kepada Allah melalui Yesus Kristus di dalam doa.